Sate Klathak, Naik Kelasnya Sebuah Hidangan Sederhana

Sate Klathak, Naik Kelasnya Sebuah Hidangan Sederhana
Bagi Anda pecinta kuliner pasti tidak asing dengan Sate. Olahan berbahan dasar daging ini disajikan dengan cara ditusuk menggunakan batang bambu, serta dibakar dengan bumbu kecap dan kacang. Rasanya yang enak, ditambah harganya yang terjangkau membuat makanan ini selalu laris manis.

Daging yang digunakan untuk olahan sate beraneka ragam, namun yang paling umum menggunakan daging ayam atau daging kambing. Selain bahan dasarnya yang variatif, penyajian makanan inipun terus berkembang seiring kemajuan jaman. Bahkan di beberapa resto modern, sate sudah tidak lagi disajikan dengan cara ditusuk.

Sate Klathak/Sate Kere

Dari banyaknya varian sate yang ada di Indonesia, terdapat satu nama yang bisa dibilang merupakan salah satu varian legendaris asli Indonesia, namanya sate Klathak. Di tempat saya (Jogja), sate klatak juga sering disebut sebagai sate kere.

Kalau menurut cerita orang tua jaman dulu, sate klatak tercipta atas dasar keadaan bukan invoasi. Konon saking miskinnya orang jaman dulu, mereka sampai enggan membeli bumbu sate yang katanya pada waktu itu berharga cukup mahal. Oleh karena itu, orang – orang jaman dulu menganti bumbu sate tersebut dengan hanya sebuah garam.

Jangan terkejut dulu, bahkan kata nenek saya, garam yang digunakan dulu bukanlah garam konsumsi konsumsi yang mengandung yodium seperti lazimnya garam saat ini. Orang jaman dulu membuat sate klatak menggunakan garam kasar, atau kalau di Jogja disebut dengan Uyah Grasak. Bagi yang belum tahu Uyah Grasak, garam jenis ini sekarang biasa digunakan untuk campuran makanan ternak seperi kambing/sapi.

Satu lagi yang unik dari Sate Klathak, yakni cara penyajiannya yang menggunakan jeruji sepeda. Penggunaan jeruji sepeda ini baru populer ketika mulai banyak pedagang sate keliling, khususnya pedesaan. Alasannya tentu saja menghemat pengeluaran, dari pada menggunakan tusuk bambu yang hanya bisa digunakan sekali pakai pedangan beralih menggunakan jeruji sepeda yang dapat dipakai berkali – kali.

Sate klathak jaman sekarang

Dewasa ini sate klathak telah menjelma sebagai hidangan istimewa, hal tersebut tidak lepas dari sejarah dan keunikan yang dimilikinya. Jika dulu sate ini identik dengan simbah lesehan dipinggir jalan dengan penerangan ‘sentir’, sekarang sate klathak bisa Anda temukan di beberapa resto mewah. Harganya’pun tidak murah, malah beberapa ada yang lebih mahal dibanding sate dengan bumbu lengkap.

Jika Anda sedang berkunjung ke Yogyakarta, saya sangat merekomendasikan Anda untuk mencoba Sate Klathak diwarung Pak Pong. Letaknya memang cukup jauh dari pusat kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Imogiri, Bantul, Yogyakarta, tapi percayalah jarak sejauh itu bakal terbayar ketika Anda mencoba sate klathak buatan Pak Pong.

Warung sate Pak Pong tidak pernah sepi, bahkan dibeberapa jam tertentu pelanggan harus rela mengantri karena tempat penuh. Jika Anda penasaran dan ingin berkunjung, berikut saya tuliskan alamat warung sate klathak Pak Pong :

  • Jl. Imogiri Timur KM. 10, Wonokromo, Pleret, Bantul
  • Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Buka setiap hari, 10.00-00.00 WIB


Copyright © 2021

Iskrim