Menguji Kesetiaan, Sejauh Mana Setiamu?


Satu hal yang pasti dalam suatu hubungan adalah terjalinnya hubungan yang berkelanjutan. Hubungan sekedar pertemanan, persahabatan, percintaan hingga jenjang pernikahan adalah kristalisasi dari sebuah kesetiaan hubungan keduanya.

Tentu saja dalam suatu hubungan ini tidak melulu berjalan mulus, hubungan naik dan turun seperti halnya grafik equalizer audio atau graphic chartnya saham di bursa efek sana, hehe. Menguji kesetiaan tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri, syukur-syukur keduanya segera sadar ada apa dengan hubungan mereka berdua manakala ada hal yang mengganjal dalam hubungan ini.

Menguji Kesetiaan, Sampai Kapan?

ilikesticker

Berharganya sebuah kesetiaan dalam jalinan hubungan seperti disebutkan diatas bukanlah catatan sakral diatas kertas atau ucapan dari mulut semata, tapi kesetiaan sesungguhnya adalah bagaimana mau menerima dan berlaku agar nilai hubungan terus meningkat dan berarti bagi keduanya. Penting untuk diingat juga adalah kesetiaan adalah bentuk dari sikap menghargai dan saling memperbaiki diri untuk menyatukan visi demi masa depan, bukan pengorbanan yang bersifat fisik seperti banyak dilakukan kids zaman now, hamil dulu barulah menikah, omg!

Namun sayangnya, kesetiaan berjalan tidak selalu mulus. Inilah sebuah ujian kesetiaan sebenarnya, dan kesabaranpun perlu di tingkatkan pula, setia dan sabar pada akhirnya akan tergabung menjadi satu dan terkadang menjadi ambigu, hubungan ini bertahan karena sebuah kesetiaan ataukah karena kesabaran?

Kesetiaan dan kesabaran menurut sayapun keduanya memiliki keterbatasan dan bisa saja menjadi bom waktu. Hal inilah bagi pasangan lainnya harus segera tanggap dan segera mengkoreksi diri jika bom waktu ini tidak terjadi, jangan menjadi egois, duduk bersama adalah cara untuk menemukan solusi terbaik.


Dan kini, yang menjadi pemikiran saya sekarang ini adalah apa sih ukuran kesetiaan itu? Sampai kapan? Kalau menurut kawan saya ukuran kesetiaan itu sebenarnya: "tidak ada ukuran yang pasti karena setiap orang berbeda-beda menyikapinya," tapi klimaksnya ada, yaitu "bom waktu" tadi.

Nah, menurut saya jika saat ini kita atau kamu sedang diuji kesetiaan suatu hubungan cobalah tentukan targetmu dan diskusikan kepada pasangan seberapa lama hubungan ini bisa dipertahankan. Jika telah disepakati bersama maka itulah ukurannya, ketika 'tenggang waktu telah tiba' maka sikap angkat kaki secara tegas, dan menjauh menjadi satu cara sebelum kekecewaan datang lebih jauh menghujam hati dan perasaanmu sendiri, "sakitnya tuh disini!".

Kesetiaanpun memang perlu sikap yang tegas dengan batas toleransi yang jelas, jangan sampai kita malah di tindas dengan alasan-alasan yang berlaru-larut tak jelas. Mari kita renungkan sudah seberapa jauh hubungan kita bersamanya, adakah target-target positif sudah tercapai dan berkelanjutan di target berikutnya, sudah setiakah kita atau dia menyikapi hubungan ini?


Artikel ini terbit juga di: Kaskus