Negeri Itu Bernama Atlantinesia (Bangkitlah!)

Negeri Itu Bernama Atlantinesia

Sebuah dongeng yang dilupakan (ah sudahlah!). Dahulu kala sebelum raja Api menyerang, Atlantinesia adalah sebuah negeri yang sangat kaya raya, sumber daya alamnya yg konon tidak akan habis hingga menjelang kiamat tiba. Atlantinesia masa itu juga menjadi pusat peradaban dan negeri yang semakin tak tertaklukkan baik di laut, mereka jaya dan di darat tiada tanding.

Kemakmuran negeri Atlantinesia membuat beberapa tetangga dan benua, termasuk negara Api iri, berbagai cara dilakukan untuk menaklukkan dan merebut kekuasaan negeri Atlantinesia, namun semua sia-sia karena kekuatan Atlantinesia tetap solid dan kokoh, semua begitu menyatu padu dan seirama utk mempertahankan kejayaan dan membangun Atlantinesia bak surganya dunia.

Segala hal bisa terjadi dunia ini. Suatu saat salah satu orang kepercayaan negeri khilaf akan tipu daya dunia akibat keserakahan, kemasyuran dan kekuasaan akhirnya menggelapkan matahatinya. Semua itu karena upaya negara Api yang ingin terus merebut dan menguasai negeri yang kaya raya dan indah ini. Revolusi dan perang akhirnya pecah, beruntung Atlantinesia masih bisa diselamatkan oleh para ksatria Atlantinesia yg gagah berani dan luar biasa pengorbanannya.

Menyadari ada yang ingin merebut kejayaan Atlantinesia, rakyat Atlantinesia tersadar dan jiwa nasionalisme mereka bangkit dan membentuk barisan rapat-rapat, seluruh rakyatnya bersatu-padu, begitu kompak dan membanggakan. Atlantinesia yg terdiri dari ribuan pulau dan raja-raja kecil ini akhirnya bersatu dan berdaulat dalam satu pucuk pimpinan menjadi sebuah negeri satu kesatuan yang solid. Namun kemudian cobaan yg dialami negeri Atlantinesia kembali datang. Negara Api masih tak menyerah, dan pada akhirnya mereka memiliki senjata 'pamungkas' yang bernama teknologi. Teknologilah inilah yang ternyata mampu mengalahkan, memecah belah persatuan, merusak mental, dan menggemboskan dari dalam negeri Atlantinesia.


Berkat bisikan ghaib Dewa Sesat bernama Gorgom, kali ini negara Api benar-benar berhasil menjalankan strategi perangnya, bukan dengan kekerasan fisik lagi tapi menyerang dalam ketenangan dan elegan, lewat canggihnya teknologi! Atlantinesia, meski negeri kaya raya ternyata gagap teknologi begitu kagum dan terlena dengan indahnya sajian teknologi, bangsa Atlantinesia mulai terlena, dimanjakkan dengan teknologi dan budaya asing yg mulai meracuninya, budaya tepaselira, gotong-royong, perlahan kian memudar menjadi budaya konsumtif, hukum buatan produk luar dianggap paling benar, akibatnya banyak ketimpangan, kecemburuan sosial terjadi dimana-mana, segalanya dinilai dengan uang, prestasi olahraga yang menggambarkan kekuatan dan sportifitas kesatuan sebuah negeri pun mendapatkan raport merah. Negera Api senang bukan kepalang dan tertawa terbahak-bahak puas senjata pamungkasnya berhasil membuat bangsa Atlantinesia dilanda kegalauan sangat, kali ini upaya negara Api menggemboskan untuk merebut kekuasaan negeri Atlantinesia perlahan menunjukkan keberhasilannya.

Namun, bukan tanpa upaya, petinggi-petinggi negeri Atlantinesia yang masih mencintai dan setia pada tanah airnya sebenarnya sudah berupaya tapi tidak bisa berbuat banyak, hukum yang tak memihak karena pelintiran kepentingan dan jumlah barisan yang tidak seimbang membuat segalanya terkesan bergerak lambat, akibatnya mereka bergerak dibawah tanah meski kini terpencar-pencar tapi tetap solid dan tumbuh perlahan. Kebenaran dan tawakal di negeri Atlantinesia kini menjadi hal yang langka dan aneh, budaya asing yang dikirim oleh negara Api dianggap dewa baru karena dianggap mencerahkan. Kini negeri Atlantinesia menjadi jauh dari keberkahan dan Rahmat-Nya, otomatis rakyat semakin gelisah sementara kalangan atas tak lagi mendengar suara rakyatny tapi malah terus sibuk dengan kepentingan kelompoknya.


Negara Api benar-benar sedang diatas angin, setelah sumber daya alam berhasil di keruk kembali dan dikirim ke negaranya justeru petinggi negeri Atlantinesia seolah tutup mata dan telinga, perbatasan seperti tiada yang menjaga, hukum dan wibawa pembesar negeri Atlantinesia tumpul bagai macan ompong. Rakyat negeri Atlantinesia kini benar-benar seperti anak ayam kehilangan induknya. Keberhasilan mengadu domba dan menguasai media yang dilakukan oleh negara Api yang menggurita kian melemahkan jiwa patriotisme dan mental pejuang rakyat Atlantinesia, tontonan kini bukan sekedar hiburan tapi justeru menghancurkan mental dan pola fikir rakyatnya-dicuci otaknya dengan kebahagiaan semu, dan secara tidak sadar menjauh dari nasionalisme dan agamanya. Agama, para guru, ulama dari manapun kini dianggap hina dan aneh dan tiada bermartabat, dan semakin lengkap negeri Atlantinesia seolah-olah tak mampu mengurus rakyatnya sampai harus menyuruh rakyatnya mencari nafkah di negeri orang lain, sebuah keanehan, negeri yang katanya kaya raya dan melimpah sumber daya alamnya ini tak mampu mensejahterakan rakyatnya. Miris dan menyedihkan. Rakyat seperti terasingkan di rumahnya sendiri, makan bukan hasil pangan sendiri, semua serba dimonopoli oleh sistem kapitalis yang merusak tatanan jual-beli rakyat.

Dari kejauhan negara Api tampak semakin membusungkan dadanya, titik simpul dan lokasi-lokasi  strategis sudah dibentuk dan direncanakan sedemikian rupa, tinggal menunggu waktu saja mereka bergerak serempak, namun rupanya bumi pertiwi negeri Atlantinesia mengetahui dan belum menerima niat jahat negera Api untuk menguasai negeri Atlantinesia ini, negara Api lupa, kalau negeri ini juga memiliki kekuatan yang tak terlihat oleh mata, saat ini mereka belum menunjukkan eksistensinya dan bumi pertiwi Atlantinesia pun kini masih berusaha bersabar, menunggu kebangkitan rasa nasionalisme dan semangat anak negeri Atlantinesia yang dulu pernah berkobar dengan semangat panji-panji patriotisme yang pernah dikibarkan bertahun-tahun oleh nenek moyang Atlantinesia.


Negeri Atlantinesia kini bak tanah kosong tanpa pemilik, rakyatnya seperti berjalan di dalam kegelapan, kocar-kacir tanpa arah ditambah keserakahan dan rendahnya kepercayaan rakyat terhadap hukum yang tumpul keatas tajam kebawah dan para pemimpin dengan sumpah palsunya menyebakan negeri Atlantinesia semakin krisis kepercayaan, krisis nasionalisme, krisis budaya yang dulu sekali dijunjung tinggi dan dibanggakan. Negeri Atlantinesia kini benar-benar dalam kondisi darurat.

Jiwa pejuang dan tak terkalahkan yang menjadi warisan pendahulu membangkitkan rakyat yang kritis dan bernasionalisme tinggi, bukan tanpa aral-lintang mereka juga dihadang, kadang ditenggelamkan dan timbul kembali, tenggelam lagi oleh kekuatan besar, namun kebenaran tetaplah tak tergantikan dan terhapuskan. Semakin di tempa semakin mengkilatlah mereka, mereka tetap berdiri tegap dibawah tanah, bergerak tanpa terdeteksi, menyusup tampa disadari. Kelompok negara Api sadar bahwa masih ada ganjalan yang menghadang, dengan dana 'tanpa batas' mereka kemudian menggelontorkan uang bak air tsunami ke negeri Atlantinesi.

Namun sekali lagi negeri Atlantinesia masih bisa bertahan oleh kekuatan dibawah tanah dan kekuatan yang tak terlihat. Tapi sampai kapan mereka dan bumi pertiwi mampu bertahan tanpa kesadaran tinggi dan nasionalisme dari rakyat Atlantinesia sendiri? Jangan sampai bumi pertiwi Atlantinesia bangkit dari tidur panjangnya dan menenggelamkan negeri Atlantinesia rata dengan tanah. Kalau bumi pertiwi bisa berkata; "lebih baik membangun peradaban baru yang tentram dan damai daripada harus dimiliki oleh kaum serakah yang menghalalkan segala cara!"

Nauzubillahiminzalik, “Kami berlindung kepada Allah SWT daripada perkara (perkara buruk) tersebut (daripada menimpa kami).”




No comments