Wacana Pajak yang Menjegal Bayi Merangkak?

Wacana Pajak yang Menjegal Bayi Merangkak

Rencana pemerintah menjaring dan meningkatkan pendapatan belanja pajak negara memang perlu bahkan memang penting bagi kemakmuran masyarakat dan kekayaan negara.

Akan tetapi, siapa sih yang tega menjegal seorang bayi yang baru saja tumbuh dan padahal baru saja belajar merangkak? Bisnis e-commerce di Indonesia rasanya ibarat jamur yang sedang tumbuh dan mekar, meski indah tapi sebenarnya rapuh, serapuh seorang bayi yang baru belajar merangkak, mudah terjatuh dan sangat membutuhkan bimbingan dan tuntunan. Tidak adakah solusi yang lain, padahal diluar sana ada banyak pelaku usaha yang sudah sangat kaya raya, yang sangat layak untuk ditinjau kembali kenaikan pajaknya, dengan pendapatan pokok produk koboinya menghasilkan pemasukkan triliunan rupiah, produk susu, obat-obatan, pajak profesi profesional, dan ada juga produknya yang bikin stress dijalan, menarik pajak yang berlipat pengusaha wni yang tinggal diluar sana, memiskinkan koruptor, apakah tidak itu saja dulu yang perlu dibuat skema atau formula baru agar lebih efektif penarikan pajaknya.

Wacana Pajak yang Menjegal Bayi Merangkak

Padahal, seorang bayi yang baru saja akan tumbuh saat ini, e-commerce, bisa jadi kedepannya menjadi tulang punggung negara, kita tidak tahu seberapa dahsyatnya dampak kemajuannya akibat dampak positif yang di berikan kelak, tapi dari sekarang saja kita sudah bisa mengukur pergerakan ekonomi melalui bisnis online ini, meski belumlah masive secara ekonomi tapi sudah menjadi ganjalan perekonomian konvensional, dan ane rasa pakar ekonomi memahami betul perubahan ekosistem ini dan distribusi keuangannya dimasa depan seperti apa.

Wacana Pajak yang Menjegal Bayi Merangkak

Wacana Pajak yang Menjegal Bayi Merangkak

Illustrasi E-Comerce yang Menjanjikan

Ada baiknya wacana atau bahkan rencana untuk menerapkan pajak di bisnis online harus ditinjau kembali, menurut ane kesannya masih terlalu premature dan tergesa-gesa. Menurut ane biarkan mereka tumbuh besar dulu, biarkan si bayi mampu berlari cepat dan bisa mandiri dahulu, biarkan semakin banyak usaha online yang benar-benar tumbuh kuat dan menancapkan eksistensinya si bumi pertiwi dan menjadi tuan rumah sendiri dulu, biarkan pasar dan ekosistemnya terbentuk kuat dengan sendirinya dulu. Jangan sampai deh, sang bayi kekurangan gizi dan orangtuanya jadi tak mampu membelikannya susu. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata, ini hanya pandangan miring ane yang berasa berat sebelah.