Wew, Peneliti Menemukan Alat Pendeteksi Wajah, Apakah Teman Ente Gay Atau Bukan




Temuan-temuan akhir-akhir ini semakin menarik dan selalu membuat penasaran siapa saja yang ingin mengetahuinya. Seperti yang baru saja terungkap bahwa beberapa ahli melalui penelitian berdasarkan perhitungan algoritma yang dibuatnya mampu mendeteksi lawan bicara atau teman ente seorang gay atau bukan!

Penemuan ini boleh dibilang menggembirakan tapi nampaknya juga mengkhawatirkan juga karena jadi  memasuki wilayah pribadi seseorang. Sebuah tim peneliti yang menciptakan sebuah algoritma kecerdasan buatan yang bisa menentukan apakah lawan bicara atau teman ente seorang gay atau bukan hanya dengan menganalisa melalui wajahnya!



Penemuan ini diluar sana sebenarnya sudah menuai kontroversial, ditambah lagi dengan kemajuan teknologi yang disebut dengan nama AI (Artificial intelligence) Gaydar ini ternyata juga bisa menentukan orientasi seksual seseorang hanya berdasarkan menganalisa foto wajah seseorang. Wew!

Tapi sebenarnya, meskipun temuan ini belumlah resmi diumumkan dan dipublikasikan secara resmi tapi berita ini akhirnya bocor setelah sebuah makalah yang memuat berita ini di Journal of Personality and Social Psychology menjadi perbincangan hangat di media lokal. 




Tim peneliti tersebut menjelaskan bagaimana algoritma mereka mampu menentukan orientasi seksual individu dengan akurasi hingga 81 persen untuk pria, dan akurasi hingga 74 persen untuk wanita.



 Teknologi AI (Artificial intelligence) Gaydar ini diyakini memiliki tingkat akurasi yang mencapai 91% untuk pria dan 83%untuk wanita jika disertai dengan foto individu.


 
Dalam percobaan AI (Artificial intelligence) Gaydar melalui sebuah situs kencan mencoba mengumpulkan data wajah individu hingga 35.326 gambar wajah dengan kategori usia antara 18 dan 40 tahun serta memasukkan data para gay dan para heteroseksual yang terang-terangan menampilkan profilnya disitus kencan tersebut.



 Kemudian AI (Artificial intelligence) Gaydar mengekstrak setiap foto wajah mereka dan membaca alur jaringan syarat wajah hingga membentuk pola algoritma yang dapat menentukan fitur wajah mana yang diklasifikasikan sebagai "paling dan paling tidak mungkin menjadi gay".




Hasil dari kerja AI (Artificial intelligence) ini dapat disimpulkan bahwa mereka yang berbakat atau memang seorang gay cenderung memiliki hidung lebih panjang, rahang yang lebih sempit. Sedangkan kaum lesbi bagi wanita cenderung memiliki dahi lebih kecil dan rahang yang lebih besar. Selanjutnya AI (Artificial intelligence) juga membaca faktor lain seperti misalnya perawatan, jumlah makeup, dan bahkan senyum seseorang juga dipandang sebagai penentu orientasi seksual.


 
 Para peneliti ini sangat sadar bahwa temuannya akan menuai kontroversial, terutama karena temuan penelitian tersebut dapat disalahartikan, atau mungkin digunakan oleh perusahaan atau pemerintah untuk mengancam privasi dan hak laki-laki dan perempuan lesbian. Terlebih lagi, mereka menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak menyiratkan bahwa semua pria dan wanita lesbi memiliki fitur wajah yang spesifik ini dengan cara ini. Itulah mengapa temuan ini sampai sekarang belum juga dibuka dan diumumkan ke publik secara resmi. Ente berniat mencobanya?


No comments